Kamis, 09 Juni 2011

BAB II

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Pengertian Sistem

Sistem yaitu sekelompok unsur yang erat berhubungan satu dengan yang lainnya, yang berfungsi bersama- sama untuk mencapai tujuan tertentu (Mulyadi, 2001:21). Jadi sistem teridiri dari unsur-unsur yang berbeda. Unsur-unsur tersebut merupakan bagian terpadu dari sistem yang bersangkutan dan dapat bekerja sama untuk mencapai tujuan sistem serta merupakan bagian dari sistem lain yang lebih besar.

Dari pengertian diatas dapat diurai lebih lanjut pengertian umum mengenai sistem sebagai berikut:

1. Setiap sistem terdiri dari unsur-unsur. Unsur-unsur suatu sistem terdiri dari dari sub sistem yang lebih lebih kecil, yang terdiri pula dari kelompok unsur yang membentuk sub sistem tersebut.

2. Unsur-unsur Tersebut Merupakan Bagian Terpadu Sistem yang Bersangkutan. Unsur-unsur sistem berhubungan erat satu dengan yang lainnya dan sifat serta kerja sama antar unsur sistem tersebut mempunyai bentuk tertentu.

3. Unsur Sistem Tersebut Bekerja Sama untuk Mencapai Tujuan Sistem. Setiap sistem mempunyai tujuan tertentu, dan dengan proses yang tertentu pula.

4. Suatu Sistem Merupakan Bagian dari Sistem lain yang Lebih Besar. Setiap sistem memiliki keterkaitan antara sistem yang satu dengan sistem lainnya yang tidak dapat dipisahkan.

2.2. Pengertian Sistem Informasi

Sistem informasi akuntansi adalah kumpulan sumber daya seperti manusia dan peralatan yang diatur untuk mengubah data menjadi informasi (Bodnard dan Hopwood, 2000:23).

Sistem informasi merupakan kombinasi manusia, fasilitas atau alat teknologi, media, prosedur dan pengendalian yang bermaksud menata jaringan komunikasi atau transaksi-transaksi tertentu dan rutin, membantu manajemen dan pemakai intern dan ekstern dan menyediakan dasar pengambilan keputusan yang tepat (La Midjan, 2000:10)

Berdasarkan hal-hal tersebut diatas dan pengertian-pengertian mengenai sistem akuntansi sebelumnya, maka penulis menyimpulkan bahwa sistem informasi akuntansi penjualan merupakan metode yang diciptakan untuk mengidentifikasi, menghimpun, menganalisis, mengelompokan, mencatat, melaporkan transaksi penjualan, dan untuk menyelengarakan pertanggungjawaban aktiva dan kewajiban yang bersangkutan dan transaksi penjualan tersebut yang diperlukan guna memudahkan pengendalian penjualan perusahaan.

2.3. Pengertian Penjualan

Penjualan adalah suatu kegiatan dimana perusahaan atau penjual menyerahkan barang atau jasa kepada pembeli, dan kemudian pembeli melakukan pembayaran atas barang atau jasa yang diterimanya dengan cara tunai atau kredit.

Penjualan tunai adalah penjualan yang dilaksanakan oleh perusahaan dengan cara mewajibkan pembeli untuk melakukan pembayaran harga barang terlebih dahulu sebelum barang diserahkan perusahaan kepada pembeli, setelah uang diterima perusahaan barang kemudian diserahkan pembeli dan transaksi penjualan tunai dicatat perusahaan (Mulyadi, 2001:3). Sedangkan penjualan kredit adalah penjualan yang dilaksanakan perusahaan dengan cara mengirimkan harga sesuai order yang diterima dari pembeli dan untuk jangka waktu tertentu perusahaan mempunyai tagihan kepada pembeli tersebut (Mulyadi, 2001:3).

Dengan adanya aktivitas penjualan, maka terjadilah pertukaran barang atau jasa, antara pembeli dan penjual, yang berakibat pembeli meperoleh barang atau jasa sedangkan penjual memperoleh pembayaran baik berupa uang atau Check.

2.3.1. Klasifikasi Transaksi Penjualan

Menurut La Midjan (2000:170-171) dalam bukunya yang berjudul “Sistem Informasi Akuntansi I” berikut ini

Ada 6 Klasifikasi transaksi penjualan yaitu:

1. Penjualan secara tunai yaitu penjualan yang bersifat cash atau penjualan kontan. Pembayaran dalam jangka waktu satu bulan termasuk kedalam pembayaran kontan.

2. Penjualan secara kredit yaitu penjualan dengan pembayaran yang dilakukan secara langsung dengan waktu rata-rata diatas satu bulan.

3. Penjualan secara tender yaitu penjualan yang dilakukan melalui posedur tertentu untuk memenuhi permintaan pihak pembeli yang membuka tender tersebut.

4. Penjualan secara ekspor yaitu penjualan yang dilaksanakan dengan pembeli dari luar negeri yang mengimpor barang tersebut.

5. Penjualan secara konsinyasi yaitu penjualan secara titipan melalui penjualan lain.

6. Penjualan secara grosir yaitu penjualan yang tidak langsung kepada pembeli tetapi melalui pedagang perantara. Grosir berfungsi sebagai perantara pabrik dengan pedagang.

2.3.2. Prosedur Penjualan Kredit

Menurut Mulyadi (2008:210) penjualan kredit dilakukan oleh perusahaan dengan cara mengirimkan barang sesuai dengan order yang diterima dari pembeli dan untuk jangka waktu tertentu perusahaan memiliki tagihan kepada pembeli tersebut. Untuk menghindari tidak tertagihnya piutang, setiap penjualan kredit yang pertama kepada seorang pembeli selalu didahului dengan analisis terhadap dapat atau tidaknya pembeli tersebut diberi kredit.

Adapun prosedur-prosedur penjualan kredit adalah sebagai berikut:

a). Prosedur order penjualan.

Dalam prosedur ini bagian penjual menerima order dari pembeli dan menambahkan informasi penting pada surat order dari pembeli. Bagian penjualan kemudian membuat faktur penjulan dan mengirimkannya kepada bagian yang lain untuk memungkinkan bagian tersebut memberikan kontribusi dalam melayani order dari pembeli.

b). Prosedur Pengiriman.

Dalam prosedur ini bagian gudang menyiapkan barang yang diperlukan oleh pembeli dan bagian pengiriman mengirimkan barang kepada pembeli sesuai dengan informasi yang tercantum dalam faktur penjualan yang diterima dari bagian gudang.

c). Prosedur Pencatatan Piutang.

Dalam Prosedur ini bagian akuntansi mencatat teembusan faktur penjualan kedalam kartu piutang.

d). Prosedur Penagihan.

Dalam prosedur ini bagian pengihan menerima faktur penjulan dan mengarsipkannya menurut abjad. Secara periodik bagian penagihan membuat surat tagihan dan mengirimkannya kepada pembeli tadi yang dilampiri dengan faktur penjulan.

e). Prosedur Pencatatan Penjualan

Dalam prosedur ini bagian akuntansi mancatat transaksi penjualan kedalam jurnal penjualan.

2.3.3. Dokumen-Dokumen Dalam Penjualan Kredit

Menurut Mulyadi ( 2008:214) dokumen yang digunakan dalam penjualan kredit adalah sebagai berikut :

1. Surat Order Pengiriman dan Tembusannya.

Surat order pengiriman merupakan dokumen pokok untuk memproses penjualan kredit kepada pelanggan. Surat order pengirimana terdiri dari beberapa macam yaitu sebagai berikut :

1). Surat Order Pengniriman, merupakan lembar pertama surat order pengiriman yang memberikan otorisasi kepada fungsi pengiriman untuk mengirimkan jenis barang dengan jumlah dan spesifikasi seperti yang tertera diatas dokumen tersebut.

2). Tembusan Kredit (Credit Copy), dokumen ini digunakan untuk memperoleh status kredit pelanggan dan untuk mendapatkan otorisasi penjualan kreditdari fungsi kredit.

3). Surat Pengakuan (Acknowledgement Copy), dokummen ini dikirimkan oleh fungsi penjualan kepada pelanggan untuk memberi tahu bahwa orderny telah diterima dan dalam proses pengiriman.

4). Surat Muat (Bill of Lading), tembusan surrat muat ini merupakan dokumen yang digunakan sebagai bukti penyerahan barang dari perusahaan kepada perusahaan angkutan umum. Surat muat ini biasanya dibuat 3 rangkap, 2 lembar unutk perusahaan angkutan umum dan yang satunya lagi disimpan sementara oleh fungsi pengiriman setelah ditandatangani oleh wakil perusahaan angkutan umum tersebut.

5). Slip Pembungkusan (Packing Slip), dokumen ini ditempelkan pada pembungkusan barang berguna untuk memudahkan penerimaan barang.

6). Tembusan Gudang (warehouse Copy), tembusan surat order pengiriman yang dikirim ke fungsi gudang untuk menyiapkan jenis barang dengan jumlah yang tercantum didalamnya.

7). Arsip Pengendalian Pengiriman (Sales Order Follow-up Copy), Merupakan tembusan surat order pengiriman yang diarsip oleh fungsi penjualan menurut tanggan pengiriman yang dijanjikan.

2. Faktur Penjualan dan Tembusan.

Faktur penjualan merupakan dokumen yang dipakai sebagai dasar untuk mencatat timbulnya piutang tembusan surat order pengiriman terdiri dari :

1). Faktur penjualan merupakan lembar pertama yang dikirim oleh fungsi pengihan kepada pelanggan.

2). Tembusan Piutang merupakan tembusan faktur yang dikirim oleh fungsi penagihan dan akuntansi sebagai dasar untuk mencatat piutang kedalam buku besar.

3. Rekapitulasi harga pokok penjulan.

Merupakan dokumen pendukung yang digunakan untuk menghitung total harga pokok produk yang dijual selama periode akuntansi. Data yang dicantumkan dalam rekapitulasi harga pokok penjualan berasal dari kartu persediaan. Secara periodik harga pokok produk yang dijual selama jangka waktu tertentu dihitung dalam rekapitulasi harga pokok penjualan dan kemudian dibuatkan dokumen sumber berupa bukti memorial untuk harga pokok produk yang dijual dalam periode akuntansi tertentu.

4. Bukti Memorial

Merupakan dokumen sumber untuk dasas pencatatan kedalam jurnal umum. Dalam sistem penjualan kredit, bukti memorial merupakan dokumen sumber untuk mencatat harga pokok produk yang dijual dalam periode akuntansi tertentu.

2.4. Pengertian SIA Penjualan

Sistem informasi akuntansi adalah kumpulan sumber daya seperti manusia dan peralatan yang diatur untuk mengubah data menjadi informasi (Bodnard dan Hopwood, 2000:23).

Sistem informasi akuntansi adalah suatu komponen organisasi yang mengumpulkan, menggolongkan, mengolah, menganalisa dan komunikasikan informasi keuangan yang relevan untuk pengambilan keputusan kepada pihak-pihak luar (seperti inspeksi pajak, investor dan kreditur ) dan pihak-pihak dalam (terutama manajemen ) (Baridwan, 1996:4).

Berdasarkan hal-hal tersebut diatas dan pengertian-pengertian mengenai sistem akuntansi sebelumnya, maka penulis menyimpulkan bahwa sistem informasi akuntansi penjualan merupakan metode yang diciptakan untuk mengidentifikasi, menghimpun, menganalisis, mengelompokan, mencatat, melaporkan transaksi penjualan, dan untuk menyelengarakan pertanggungjawaban aktiva dan kewajiban yang bersangkutan dan transaksi penjualan tersebut yang diperlukan guna memudahkan pengendalian penjualan perusahaan.

2.4.1. Tujuan Penyusunan Sistem Informasi Akuntansi

Tujuan umum penyusunan sistem informasi akuntansi adalah sebagai berikut:

1. Untuk memperbaiki informasi yang diberikan oleh sistem dalam kualitas, ketepatan waktu atau struktur dari informasi tersebut.

2. Untuk memperbaiki pengendalian akuntansi dan pengecekan intern, yang berarti memperbaiki daya andal informasi akuntansi dan menyediakan catatan yang lengkap sebagai pertanggungjawaban dalam melindungi harta perusahaan.

3. Untuk menurunkan biaya dalam menyelenggarakan catatan akuntansi.

Dari ketiga tujuan tersebut harus dipertimbangkan pada waktu penyusunan suatu sistem informasi akuntansi, sehingga dapat diharapkan tidak ada salah satu tujuan yang terlewatkan.

2.4.2. Faktor-faktor yang dipertimbangkan dalam penyusunan Sistem Informasi Akuntansi

Penyusunan sistem informasi akuntansi untuk suatu perusahaan perlu mempertimbangkan beberapa faktor penting antara lain:

1. Sistem informasi akuntansi yang disusun harus memenuhi prinsip cepat yaitu sistem informasi akuntansi harus menyediakan informasi yang diperlukan dengan cepat dan tepat waktu serta dapat memenuhi kebutuhan dan kualitas yang sesuai..

2. Sistem informasi yang disusun harus memenuhi prinsip aman yaitu sistem informasi harus dapat membantu menjaga keamanan harta milik perusahaan.

3. Sistem informasi akuntansi yang disusun harus memenuhi prinsip murah yang berarti bahwa biaya untuk menyelenggarakan sistem informasi akuntansi tersebut harus dapat ditekan sehingga relatif tidak mahal.

2.5. Pengendalian Intern

Menurut Mulyadi (1993:165) sistem pengendalian intern meliputi struktur organisasi, metode dan ukuran-ukuran yang dikoordinasi untuk menjaga kekayaan organisasi, mengecek ketelitian dan keandalan data akuntansi, mendorong efisiensi dan mendorong dipatuhinya kebijakan manajemen.

Definisi sistem pengendalian intern tersebut menekankan tujuan yang hendak dicapai dan bukan pada unsur yang membentuk sistem tersebut. Dengan demikian pengertian pengendalian intern tersebut di atas berlaku baik dalam perusahaan yang mengolah informasinya secara manual dengan mesin pembukuan maupun computer.

2.5.1. Tujuan Sistem Pengendalian Intern

Tujuan sistem pengendalian intern adalah sebagai berikut:

1. Menjaga catatan dan kekayaan organisasi

Kekayaan fisik suatu perusahaan dapat dicuri, disalahkan atau hancur karena kecelakaan kecuali jika kekayaan tersebut dilindungi dengan pengendalian yang memadai.

2. Mengecek ketelitian dan keandalan data akuntansi

3. Manajemen memerlukan informasi keuangan yang teliti dan andal untuk menjalankan kegiatan usahanya. Banyak informasi yang digunakan oleh manajemen untuk dasar pengambilan keputusan penting. Pengendalian intern dirancang untuk memberikan jaminan proses pengolahan data akuntansi akan menghasilkan informasi keuangan yang teliti dan andal.

4. Mendorong efisiensi.

5. Pengendalian intern ditujukan untuk mencegah duplikasi usaha yang tidak perlu atau pemborosan dalam segala kegiatan bisnis perusahaan dan untuk mencegah penggunaan sumber daya perusahaan yang tidak efisien.

6. Mendorong dipatuhinya kebijakan manajemen.

Untuk mencapai tujuan perusahaan, manajemen menetapkan kebijakan dan prosedur. Struktur pengendalian intern ditujukan untuk memberikan jaminan yang memadai agar kebijakan manajemen dipatuhi oleh karyawan perusahaan.

2.5.2. Unsure-unsur pengendalian intern

Unsur –unsur pokok pengendalian intern adalah sebagai berikut:

1. Struktur organisasi yang memisahkan tanggung jawab fungsional secara tegas.

2. Struktur organisasi merupakan kerangka pembagian tanggung jawab fungsional kepada unit-unit organisasi yang dibentuk untuk melaksanakan kegiatan-kegiatan pokok perusahaan.

3. Sistem wewenang dan prosedur pencatatan memberikan perlindungan yang cukup terhadap kekayaan , hutang, pendapatan dan biaya.

Dalam organisasi, transaksi hanya terjadi atas dasar otorisasi dari pejabat yang memiliki wewenang untuk menyetujui terjadinya transaksi tersebut. Oleh karena itu, harus dibuat sistem yang mengatur pembagian wewenang untuk otorisasi terlaksananya setiap transaksi.

4. Praktek yang sehat dalam melaksanakan tugas dan fungsi.

Pembagian tanggung jawab fungsional dan sistem wewenang dan prosedur pencatatan yang telah ditetapkan tidak akan terlaksana dengan baik jika tidak diciptakan cara-cara untuk menjamin praktek yang sehat dalam pelaksanaannya.

5. Karyawan yang mutunya sesuai dengan tanggung jawabnya.

Bagaimanapun baiknya struktur organisasi, sistem otorisasi dan prosedur pencatatan serta berbagai cara yang diciptakan untuk mendorong praktek yang sehat semuanya sangat tergantung pada manusia yang melaksanakannya.

2.6. Flowchart

Flowchart dipergunakan untuk menggambarkan proses kegiatan dalam suatu organisasi. Flowchart berupa bagan untuk keseluruhan sistem termasuk kegiatan-kegiatan manual dan aliran atau arus dokumen yang dipergunakan dalam sistem.

Penggambaran flowchart harus menggunakan cara-cara dan ketentuan-ketentuan yang berlaku secara lazim dalam sistem informasi akuntansi, sehingga tidak menimbulkan kebebasan yang tidak mempunyai standar dalam menggambarkan sistem. Dalam sistem informasi akuntansi diperoleh kesepakatan dari pihak-pihak yang berkompeten untuk digunakannya standar simbol yang dipakai untuk menggambarkan bagan atau flowchart.

Berikut ini flowchart sistem akuntansi penjualan kredit, dapat dilihat pada gambar 2.1 Sistem Penjualan Kredit, 2.2 Sistem Penjualan Kredit (Lanjutan), 2.3 Sistem Penjualan Kredit (Lanjutan), dibawah ini :

Gambar 2.1 Flow Chart Penjualan Kredit

Gambar 2.2 Flow Chart Penjualan Kredit (lanjutan)

Gambar 2.3 Flow Chart Penjualan Kredit (lanjutan)

Keterangan gambar :

1. Bagian Order Penjualan

a. Menerima order dari pelanggan.

b. Berdasarkan surat order yang diterima dari pelanggan membuat surat order pengiriman dan faktur.

c. Mendistribusikan durat order pengiriman lembar pertama dikirim ke bagian gudang, lembar 2, 3, 4, 5 dikirim kebagian pengiriman, lembar 6 ke bagian pelanggan, lembar 7 ke bagian kredit, lembar 8, 9 daarsipkan sementara menurut tanggal.

d. Menerima surat order pengiriman lembar 7 dan bagian kredit untuk diarsipkan permanen menurut abjad.

e. Menerima surat order pengiriman lembar 1, 2 dari bagian pengiriman pada surat order pengiriman lembar 9.

f. Surat order pengiriman lembar 1, 2 dikirim ke bagian penagihan.

2. Bagian Kredit

a. Berdasarkan surat order pengiriman lembar7 dari bagian order penjualan dilakukan pemeriksaan status kredit.

b. Memberikan otorisasi kredit.

c. Surat order pengiriman lembar 7 dikembalikan kebagian order penjualan.

3. Bagian Gudang

a. Berdasarkan surat order pengiriman lembar 1, dilakukan penyiapan barang.

b. Barang yang telah disiapkan kemudian dilakukan penyerahan barang.

c. Berdasarkan surat order pengiriman lembar 1, maka direkap ke dalam kartu gudang.

d. Bersama dengan barang, surat order pengiriman lembar 1 dikirim ke bagian pengiriman.

4. Bagian Pengiriman

a. Surat order pengiriman dan barang yang diterima secara bersama dari bagian gudang serta surat order pengiriman lembar 2, 3, 4, 5.

b. Menempel surat order pengiriman lembar 5 pada pembungkus barang sebagai slip pembungkus.

c. Menyerahkan barang kepada perusahaan angkutan.

d. Mengembalikan surat order pengiriman lembar 1, 2 ke bagian order pengiriman dan lembar 3 diserahkan ke perusahaan pengangkutan.

e. Surat order pengiriman lembar 4 diarsipkan secara permanen menurut nomor urut.

5. Bagian Penagihan

a. Menurut faktur berdasarkan surat order pengiriman lembar 1 dan 2 yang diterima dari bagian order penjualan.

b. Mengirim faktur lembar 1 ke pelanggan.

c. Mengirim faktur 2 bersama surat order pengiriman lembar 1 dan 2 ke bagian piutang.

d. Mengirim faktur lembar 3 ke bagian kartu persediaan.

e. Mengirim faktur lembar 4 ke bagian jurnal.

f. Mengirim faktur lembar 5 ke wiraniaga.

6. Bagian Piutang

a. Faktur yang diterima dari bagian penagihan dibuat rekap ke dalam kartu piutang.

b. Faktur dan surat order pengiriman lembar 1 dan surat muat lembar 2 diarsipkan permanen menurut nomor urut.

7. Bagian Kartu Persediaan

a. Berdasarkan faktur lembar 3, merekap ke kartu persediaan dan faktur tersebut diarsipkan permanen sesuai nomor urut.

b. Berdasarkan kartu persediaan dibuat rekapitulasi harga pokok penjualan secara periodik.

c. Berdasarkan rekapitulasi harga pokok penjualan membuat bukti memorial.

d. Bukti memorial dan rekapitulasi tersebut dikirim ke bagian jurnal.

8. Bagian Jurnal

a. Rekapitulasi harga pokok penjualan dan bukti memorial direkap ke dalam jurnal umum dan diarsipkan menurut nomor urut.

b. Faktur lembar 4 direkap ke dalam jurnal penjualan kemudian diarsipkan.

TA KU SIA PENJUALAN KREDIT ENERGI LISTRIK

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Suatu perusahaan agar dapat berkembang dan bertahan terus diperlukan pengelolaan usaha yang baik dan harus berusaha mengembangkan aktivitasnya. Pengelolaan yang baik dalam hal ini meliputi bidang keuangan, sumber daya manusia, produksi dan pemasaran. Pada umumnya, suatu perusahaan didirikan dengan tujuan memperoleh keuntungan yang maksimal maka penjualan merupakan salah satu faktor yang sangat penting. Setiap perusahaan dalam menjual suatu produk yang telah dihasilkan berusaha untuk menguasai pasar yang seluas-luasnya, agar mampu mencapai pasar yang potensial. Semakin luas pasar yang dikuasai maka semakin baik bagi perusahaan, karena semakin luas pemasaran akan bertambah keuntungan bagi perusahaan. Hal ini juga harus diimbangi dengan manajemen yang baik pula. Dari berbagai perusahaan yang ada beberapa diantaranya merupakan perusahaan milik Negara dan perusahaan swasta. Perusahaan milik Negara merupakan perusahaan yang memiliki wilayah pemasaran yang luas, salah satu perusahaan milik Negara adalah PT. PLN (Persero) yang bergerak dibidang penjualan dan pelayanan energi listrik. Dengan wilayah yang luas maka dibutuhkan sistem penjualan yang baik.

Sistem penjualan digunakan untuk menangani transaksi penjualan barang atau jasa, baik secara kredit maupun tunai. Dalam transaksi penjualan kredit, jika order dari langganan telah dipenuhi dengan pengiriman barang atau penyerahan jasa, untuk jangka waktu tertentu perusahaan memiliki piutang kepada langganannya. Dalam transaksi penjualan tunai, barang atau jasa yang diserahkan oleh bagian pengiriman kepada pembeli jika bagian kasa telah menerima uang dari pembeli (Drs. Ashari, 2003:3). Untuk mendukung sistem akuntansi penjualan dari penjualan kredit maupun tunai dibutuhkan informasi, baik yang berasal dari internal maupun eksternal perusahaan. Informasi yang disediakan oleh sistem akuntansi penjualan berkaitan dengan informasi kas, informasi pembelian, informasi penjualan, dan informasi lainnya. Informasi yang dihasilkan oleh suatu sistem akuntansi dalam sebuah perusahaan digunakan sebagai dasar dalam pengambilan keputusan yang dilakukan pihak manajemen perusahaan untuk mencapai tujuan strategis perusahaan.

Informasi juga meningkatkan hubungan perusahaan dengan lingkungannya yaitu pelanggan, pesaing, partner, pemasok, karyawan, lembaga keuangan, pemegang saham, masyarakat global dan pemerintah. Maka diperlukan sistem informasi yang dapat diandalkan, sehingga tidak menutup kemungkinan bahwa sistem informasi memiliki resiko, seperti kesalahan yang tidak disengaja dan penyalahgunaan oleh orang yang tidak berwenang. Dengan adanya resiko-resiko yang ditimbulkan dari sistem informasi tersebut, maka dilaksanakan evaluasi pengendalian sistem informasi.

Sistem Akuntansi penjualan yang memadai dapat menjadi alat bantu bagi manajemen dalam menyediakan informasi yang tepat, cepat dan dipercaya khususnya dalam melakukan kegiatan penjualan, sehingga kesalahan yang terjadi dapat dihindari dan ditekan sekecil mungkin. Perusahaan akan terjamin kelangsungan hidupnya apabila aktivitas penjualan dikelola dengan sistem yang baik. Sistem akuntansi penjualan bertujuan untuk memproses dan mengelola data transaksi secara efektif dan efesien.

Ada 2 macam penjualan pada PT. PLN (Persero) UPJ Brebes, penjualan tunai dan penjualan kredit. Penjualan tunai adalah penjualan yang dilaksanakan oleh perusahaan dengan cara mewajibkan pembeli untuk melakukan pembayaran harga barang terlebih dahulu sebelum barang diserahkan perusahaan kepada pembeli, setelah uang diterima perusahaan barang kemudian diserahkan pembeli dan transaksi penjualan tunai dicatat perusahaan (Mulyadi, 2001:3). Sedangkan penjualan kredit adalah penjualan yang dilaksanakan perusahaan dengan cara mengirimkan harga sesuai order yang diterima dari pembeli dan untuk jangka waktu tertentu perusahaan mempunyai tagihan kepada pembeli tersebut (Mulyadi, 2001:3).

PT. PLN (Persero) UPJ Brebes merupakan salah satu unit yang melayani pendistribusian tenaga listrik kepada pemakai di wilayah Brebes. Adapun proses bisnisnya meliputi penjualan tenaga listrik baik secara tunai maupun kredit. PT. PLN (Persero) UPJ Brebes sekarang ini mulai melayani penjualan secara tunai dan mensosialisasikan kepada masyarakat karena memeliki keuntungan bebas biaya tunggakan dan masyarakat bisa mengontrol pemakaian energi listriknya. Dan penjualan kredit pada PT. PLN (Persero) UPJ Brebes umumnya sama dengan penjualan kredit pada perusahaan lainnya dengan cara PT. PLN (Persero) melayani kebutuhan listrik kepada masyarakat dan kemudian PT. PLN (Persero) mempunyai tagihan atas pelayanan energi listrik pada masyarakat. Dengan berbagai kebutuhan yang berbeda-beda mulai dari pemakaian untuk rumah tangga, sosial, industri, bisnis, dan multiguna. Tentunya dalam melayani pelanggan tersebut harus di dukung oleh sarana dan prasarana yang up to date dan juga harus didukung oleh kinerja organisasi satu perusahaan dengan sistem administrasi yang baik dan teratur.

PT. PLN (Persero) UPJ Brebes mengutamakan keandalan produksi tenaga listrik dan kualitas pelayanan dalam rangka meningkatkan kepuasan pelanggan guna memenuhi hal tersebut PT. PLN (Persero) UPJ Brebes berpedoman pada kebijakan mutu yang telah digariskan serta telah diakui dan sudah memiliki sertifikat ISO (International standart organization) 9001-2008 dalam bidang pelayanan. Adapun kebijakan mutu tersebut merupakan suatu komitmen manajemen dan karyawan PT. PLN (persero) UPJ Brebes. Dalam melayani pelanggan PT. PLN (Persero) menggunakan sistem penjualan yang baik agar dalam pelayanan terhadap pelanggan dapat mencapai tujuan yang ingin dicapai.

Sistem akuntansi penjualan kredit pada PT. PLN (Persero) UPJ Brebes menurut ISO (International standart organization) 9001-2008 meliputi formulir umum, formulir jaringan, formulir pelayanan pelanggan dan prosedur penyambungan baru, prosedur pencatatan kWh, prosedur pembuatan rekening listrik, prosedur pencatatan piutang, prosedur penagihan, dan prosedur pemutusan listrik. Sistem akuntansi penjualan pada PT. PLN (Persero) UPJ Brebes memang sudah baik, namun masih ada kelemahan yang harus di perhatikan adalah keakuratan pencatatan kWh sebagai dasar penagihan dan ketepatan waktu penagihan. Hal ini dikarenakan dana yang berasal dari pembayaran tagihan listrik dari pelanggan setiap bulannya merupakan pendapatan yang mempunyai pengaruh pada arus kas bagi perusahaan dan sangat vital. Presentase tunggakan listrik pada PT. PLN (Persero) UPJ Brebes pada tahun 2009 sebesar , pada tahun 2010 sebesar 10%

Untuk itu diperlukan pengawasan terhadap bagian pembacaan meter agar teliti dan akurat dalam pengelolaan hasil penjualan serta proses pembuatan laporannya serta ditunjang oleh sarana dan fasilitas sumber daya yang memadai. Selain itu koordinasi antara fungsi penagihan, fungsi pelayanan pelanggan, fungsi pengolahan data dan petugas dilapangan kurang maksimal. Hal ini terbukti dengan munculnya beberapa kasus dilapangan antara lain:

1. Lambatnya pelayanan pelaggan terhadap pelanggan pasang baru.

2. Terlambatnya pemutusan sementara maupun pemutusan rampung.

3. Banyak pelanggan yang menunggak lebih dari 3 lembar rekening listrik belum dilakukan pemutusan.

Berdasarkan latar belakang tersebut Penulis tertarik untuk membahas lebih lanjut tentang sistem informasi akuntansi khususnya sistem akuntansi penjualan kredit yang ada disana, maka Penulis mengambil judul : ”SISTEM INFORMASI AKUNTANSI PENJUALAN KREDIT ENERGI LISTRIK PADA PT. PLN (Persero) UNIT PELAYANAN DAN JARINGAN BREBES”.

1.2 Tujuan Penelitian

Berdasarkan perumusan masalah yang akan di bahas, maka secara obyektif penelitian ini mempunyai tujuan sebagai berikut :

a. Untuk mengetahui sistem informasi akuntansi penjualan energi listrik pada PT. PLN (Persero) UPJ Brebes.

b. Untuk mengetahui prosedur penjualan energi listrik pada PT. PLN (persero) UPJ Brebes.

c. Untuk mengetahui dokumen yang digunakan dalam sistem informasi akuntansi penjualan energi listrik pada PT. PLN (Persero) UPJ Brebes.

d. Untuk mengetahui unit organisasi yang terkait dengan sistem informasi akuntansi penjualan energi listrik pada PT. PLN (Persero) UPJ Brebes.

e. Untuk mengetahui unsur-unsur pengendalian intern sistem informasi akuntansi pada PT. PLN (Persero) UPJ Brebes.

1.3 Manfaat Penelitian

A. Manfaat Teoritis

Penelitian ini diharapkan dapat menambah dan memperluas pengetahuan khususnya mengenai sistem akuntansi penjualan.

B. Manfaat Praktis

1. Bagi Peneliti

Menambah wawasan dan pengetahuan mengenai masalah yang terjadi dalam suatu perusahaan yang berhubungan dengan sistem akuntansi penjualan.

2. Bagi Perusahaan

Menambah wawasan dan pengetahuan mengenai masalah yang terjadi dalam suatu perusahaan yang berhubungan dengan sistem akuntansi penjualan.

3. Bagi Ilmu Pengetahuan

Dapat digunakan sebagai kajian ilmiah bagi mahasiswa dan sebagai bahan perbandingan bagi mahasiswa yang akan melakukan penelitian khususnya mengenai sistem akuntansi penjualan.

1.4 Perumusan Masalah

Dari uraian latar belakang diatas, permasalahan yang akan dikaji dalam penelitian ini adalah :

1. Bagaimana sistem informasi akuntansi penjualan energi listrik pada PT. PLN (Persero) UPJ Brebes?

2. Bagaimana prosedur penjualan energi listrik pada PT. PLN (Persero) UPJ Brebes?

3. Bagaimana dokumen yang digunakan dalam sistem informasi akuntansi penjualan energi listrik pada PT. PLN (Persero) UPJ Brebes?

4. Bagaimana unit organisasi yang terkait dengan sistem informasi akuntansi penjualan energi listrik pada PT. PLN (Persero) UPJ Brebes?

5. Bagaimana unsur-unsur pengendalian intern sistem informasi akuntansi penjualan energi listrik pada PT. PLN (Persero) UPJ Brebes?

1.5 Batasan Masalah

Pembatasan masalah bertujuan agar lebih fokus pada pokok pembahasan, maupun suatu analisa yang berbobot dan baik, serta tidak menyimpang dari tujuan awal penulisan. Adapun batasan-batasan yang dimaksud adalah :

1. Objek penelitian hanya dilakukan pada PT. PLN (Persero) UPJ Brebes.

2. Pembatasan masalah dalam penulisan tugas akhir ini menitik beratkan pada sistem informasi akuntansi penjualan energi listrik pada PT. PLN (Persero) UPJ Brebes.

3. Pembatasan dalam penulisan tugas akhir ini hanya mengenai sistem akuntansi penjualan kredit pada PT. PLN (Persero) UPJ Brebes.

1.6 Sistematika Penulisan

Adapun sistematika penulisan dalam penelitian ini sebagai berikut:

BAB I PENDAHULUAN

Bab ini berisikan latar belakang masalah, tujuan dan manfaat, perumusan masalah, batasan masalah, serta sistematika penulisan.

BAB II LANDASAN TEORI

Bab ini berisikan uraian teori yang berkaitan dengan penelitian. Teori yang melandasi dalam landasan teori adalah pengertian sistem, sistem akuntansi, sistem penjualan, dan sistem informasi akuntansi penjualan.

BAB III METODE PENELITIAN

Bab ini berisikan tentang waktu dan tempat penelitian (jika ada), alat dan bahan (jika ada), teknik pengumpulan data, metodologi pengembangan sistem yang digunakan dan sebagainya.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

Bab ini berisikan tentang tinjauan umum perusahaan yang berisi sejarah singkat perusahaan, struktur organisasi dan Job Description (tugas dan wewenang) dan kondisi perusahaan saat ini dijelaskan secara terperinci mengenai perusahaan tempat penelitian dilakasanakan dan memberikan gambaran dari analisa data penelitian yang ada pada perusahaan.

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

Bab ini berisikan tentang garis besar kesimpulan yang diambil dari inti penelitian dan hasil penelitian berupa informasi kualitatif.

Saran berisi garis besar saran-saran yang merupakan tindakan yang perlu diambil untuk ditindak lanjuti yang lebih baik dari hasil pemecahan masalah.